WEBCOMIC PEREMPUANMU

Diri yang Rumit

Oleh Dr. Setiawati Intan Savitri, S.P., M.Si

Background photo created by freepik – www.freepik.com

Sesekali kita terkaget-kaget jika kita membuka kembali catatan tentang diri kita kan ya?

Untuk mereka yang senang menuliskan pikiran dan perasaannya, atau apa yang pernah dilaluinya melalui tulisan (semacam diary atau catatan harian) atau mereka yang rutin menulis di sosial media, seringkali reaksi kita terhadap catatan kita sendiri, membuat kita bertanya-tanya atau bereaksi dengan reaksi seperti di atas. Apakah itu berarti mengenal diri kita sendiri lebih sulit daripada mengenal orang lain? Relatif sih. Sebab kita kadang menjadi lebih mengenal diri sendiri, melalui interaksi dengan orang lain.

Jadi sebenarnya apakah itu diri?

Diri atau “Self” telah begitu lama memiliki daya tarik bagi manusia, khususnya psikolog dan filsuf. William James mengatakan bahwa diri dikategorikan menjadi dua, yakni diri yang diketahui (The Self as Known) dan diri yang mengetahui (The Self as a Knower), istilah ini kemudian dikembangkan dengan terma kognitif oleh para psikolog kognitif Linville dan Carlston dengan The me dan The I (Diriku dan Aku). Dalam disertasi saya, kata –diriku, diri saya- jika digunakan akan membantu kita melihat diri kita sendiri, dengan lebih jelas, tetapi sayang kata “Diriku, diri saya, tidak ada di KBBI dan jarang digunakan” sedangkan dalam bahasa Inggris, I dan Myself adalah dua kata yang berbeda.

Diri yang dikenal (The Me, Diriku) dikonseptualisasi sebagai pengetahuan deklaratif (pengetahuan yang dinyatakan –oleh diri sendiri-) tentang dirinya sendiri, yang berarti bersifat reflektif, mengarah kedalam diri.

Sedangkan Diri yang mengetahui (The I, Aku) dikonseptualisasi sebagai pengetahuan prosedural yang langsung mewujud dalam tindakan kita, tindakan kita, dan perasaan kita, mengarah keluar. Sederhananya, ketika kita menunjukkan ketidak-sukaan kita pada sesuatu (seseorang), itu adalah “The I”, dan ketika kita menjelaskan mengapa kita tidak suka, “karena saya adalah orang yang bla.. bla ..bla” itu adalah “The Me”

Kedua kategori diri tersebut (The Me and The I), terus berinteraksi satu-sama lain kemudian membentuk konsep diri seseorang. Konsep ini kemudian dikembangkan oleh para psikolog sosial dikorelasikan dengan interaksi sosial, sosiologi, relasi interpersonal, relasi diri dengan kelompok, hingga relasi kelompok dengan kelompok, sehingga semakin kompleks (rumit) dan menghasilkan banyak teori tentang diri.

Saya misalnya, mengetahui secuil potongan tentang diri saya ketika saya berinteraksi dengan diri saya sendiri, lalu cuilan itu bertambah ketika berinteraksi dengan orang lain, bertambah lagi ketika berinteraksi dengan beberapa orang lain, bertambah lagi ketika berinteraksi dengan beberapa orang dengan nilai-nilai yang sama dengan saya, bertambah lagi ketika berinteraksi dengan orang atau beberapa orang yang berbeda nilai-nilai dengan saya, dan seterusnya dan seterusnya. Bisa dibayangkan bukan, pengetahuan seseorang ketika berinteraksi dengan banyak orang, banyak kelompok, banyak nilai, banyak budaya, banyak kebiasaan. Saya sedikit-demi sedikit, memiliki pengetahuan yang terus bertambah tentang diri saya sendiri.

Sering kita mendengar orang berceloteh: “Kurang jauh mainnya”, “Kurang piknik”, “gaulnya sama itu-itu saja”, atau dengan terminologi yang lebih teknis seperti “Pikirannya sempit”, “Sudut-pandangnya tidak berubah”, “Pikirannya tertutup” dan seterusnya. Pernah dengar kan? Benarkah orang yang pikirannya tertutup dan kaku itu karena hal-hal seperti di atas?

Boleh jadi, betul.

Mungkin “dia”, masih berproses untuk membentuk diri, sehingga jatuh-bangun, salah dan gelap. Tidak jarang saat jatuh-bangun tersebut, seseorang harus mengalami cobaan besar dulu atau hidupnya berantakan. Lalu, tak jarang setelah itu kita menemui orang-orang tersebut akhirnya bangkit dan menginspirasi, tetapi juga tidak sedikit yang sakit mental dan atau ‘mati’.

Jadi darimana kita bisa banyak tahu tentang diri kita?

Secara retrospektif kita bisa meretasnya kembali melalui tulisan-tulisan tentang pikiran, perasaan dan perilaku kita (ada di diary, di agenda,di kalender, di sosial media, bahkan di buku tabungan, di mana saja) sebab seringkali jika hanya dipikirkan saja, tanpa dituliskan, apa yang kita pikirkan terlewat dan kita kehilangan kesempatan untuk melihat diri kita lebih jernih, alih-alih mau memperbaiki, melihat saja tak cukup jelas.

Itu sebabnya saya gencar mengampanyekan menulis untuk kesehatan mental, terapi menulis naratif uituk mengatasi depresi. Salah satu manfaat praktisnya adalah untuk lebih mengenal diri sendiri dan mengevaluasi diri kita sendiri, agar menjadi lebih baik lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *