WEBCOMIC PEREMPUANMU

Perempuan Sehat Jiwa Keluarga Tangguh Bahagia

Oleh Dr. Setiawati Intan Savitri, S.P., M.Si

Benarkah? Kebahagiaan keluarga terletak sebagai tanggung-jawab perempuan saja? Oleh sebab itu maka ia harus sehat jiwa?

Background photo created by freepik – www.freepik.com

Pertanyaan diatas adalah pertanyaan kritis yang perlu dicermati dengan teliti. Sebab. ketika berbicara tentang keluarga tentu tidak hanya bicara individu, tetapi berbicara tentang beberapa orang individu, lalu berbicara tentang relasi antar individu, kemudian tentang peran yang disandang para individu dalam relasi tersebut, lalu bicara tentang lingkungan baik individu lain atau non individu yang melingkupi.

Ya, topik tentang keluarga adalah topik yang rumit dan kompleks. Itu sebabnya, seringkali terjadi perdebatan. Bagaimana caranya agar keluarga tangguh dan bahagia? Mulai darimana? Mulai dari siapa?

Pada dasarnya kesehatan mental adalah tanggung-jawab masing-masing individu. Jika individu sehat secara mental, maka ia akan memberikan pengaruh positif pada dirinya sendiri dan kemudian memberikan pengaruh positif pada lingkungannya. Tetapi, untuk menjadi sehat secara mental tentu sangat banyak faktor yang menentukan. Paling tidak ada 3 hal yang mempengaruhi untuk sehat mental, yakni 1. Kepribadian, 2. Kemampuan 3. Ketrampilan. Beda ya ketiganya? Beda, Kepribadian adalah ciri individu yang cenderung menetap, kemampuan adalah potensi individu yang cenderung dapat dilatih, ketrampilan adalah perilaku hasil interaksi dari kemampuan dan kepribadian, terhadap sebuah bidang tertentu.

Jadi, kalau bicara tentang individu sehat jiwa mulai dari mana? Lebih baik memang dari diri individu itu sendiri. Dari kepribadiannya, kemampuannya dan ketrampilannya.
Nah! Salah satu yang akan dibahas dalam naratif writing therapy adalah bagaimana kepribadian, kemampuan dan ketrampilan individu yang mendukung untuk bisa sehat mental. Diantaranya terkait dengan emosionalitasnya, kemampuannya mengelola emosi dan diajarkan ketrampilan mengelola emosi melalui menulis.

Menulis pada dasarnya adalah ekspresi verbal yang sama dengan berbicara, jika Freud mengatakan bahwa berbicara itu menyembuhkan, atau talking cure, menulis menurut Pennebaker juga memiliki efek yang setara. Apakah menulis membutuhkan pengetahuan dan ketrampilan tertentu, yang paling mendasar sebenarnya adalah keberanian untuk mengekspresikan. Kalau berbicara ada resiko mendapatkan respon negatif dari lawan bicara, menulis hampir tidak ada resiko kecuali Anda mengunggahnya di sosial media.

Hasil penelitian disertasi saya menyimpulkan bahwa ketika seseorang menulis, sesungguhnya ia sedang berhadapan dengan dirinya sendiri, ia bisa melihat dirinya sendiri dalam tulisan yang ditulisnya, dan hal ini memungkinkan ia untuk mengubah perspektif dan mengembangkan diri.

Jadi pada dasarnya, menulis yang bersifat terapeutik lebih bersifat pribadi dan seperti berbicara dengan diri sendiri. Nanti, jika sudah menjadi kebiasaan dan sudah menjadi alat kontrol bagi diri sendiri, bolehlah Anda menjadi penulis profesional yang tulisannya dapat menginspirasi pembaca.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *